>

Studi ungkap lagu pop modern kian negatif dalam 50 tahun terakhir

3 Min Read



Jakarta (VAOK) – Kalau orang tua merasa lagu zaman sekarang beda dengan dulu, mungkin benar, bukan cuma kenangan saja.

Penelitian terbaru menunjukkan, lagu pop modern jadi lebih banyak berisi perasaan negatif dalam 50 tahun terakhir dibandingkan lagu-lagu sebelumnya.

“Dalam jangka panjang, musik populer mencerminkan perubahan perasaan masyarakat,” kata Dr. Mauricio Martins dari University of Vienna, seperti yang dilansir Daily Mail.

Penelitian ini menganalisis lebih dari 20.000 lirik lagu berbahasa Inggris yang ada di 100 lagu teratas di Amerika Serikat (AS) dari tahun 1973 sampai 2023.

Hasilnya, lirik lagu populer jadi lebih sederhana dan lebih negatif seiring waktu, dan lebih banyak kata yang berkaitan dengan perasaan stres selama 50 tahun terakhir.

Kata-kata negatif seperti “bad”, “cry”, “wrong”, “miss”, “kill”, dan “hurt” semakin sering digunakan.

Para peneliti bilang, temuan ini cocok dengan peningkatan kasus depresi dan kecemasan, serta berita negatif di media dan buku.

“Penggunaan bahasa yang berkaitan dengan stres dan negatif dalam lagu sejalan dengan peningkatan stres, kecemasan, dan perasaan putus asa di masyarakat,” kata Dr. Martins.

Lirik lagu yang lebih sederhana bisa jadi karena perubahan budaya dan cara berpikir, seperti perhatian yang lebih pendek, kebiasaan mendengarkan musik lewat streaming, atau bahasa yang jadi lebih sederhana juga di buku dan komunikasi online.

Dr. Martins menyebut beberapa lagu yang banyak dipakai dalam penelitiannya karena bahasa yang sangat negatif dan berkaitan dengan stres, seperti “Cry Me A River” oleh Justin Timberlake dan “Hurt” yang dinyanyikan Elvis Presley.

Tapi ada juga lagu dengan suasana lebih positif, seperti “YMCA” dari Village People dan “Do I Do” karya Stevie Wonder.

Peneliti juga menemukan, lagu dengan lirik yang lebih rumit mulai populer lagi sejak tahun 2016.

Namun, saat kejadian besar seperti pandemi COVID-19, lirik lagu justru jadi lebih rumit dan positif, dan lebih sedikit kata yang berhubungan dengan stres, atau bahkan tidak banyak berubah.

Para peneliti menduga, ini karena musik yang lebih positif dan rumit sering dipakai untuk menghilangkan stres dan mengatur emosi saat masa sulit.

“Di saat sulit, orang mungkin lebih suka musik dengan lirik yang tidak terlalu tegang dan lebih positif untuk menenangkan suasana hati,” tulis penelitian itu.

Peneliti menekankan, temuan ini menambah pemahaman tentang musik sebagai cara unik untuk mengelola emosi, dan menegaskan perannya dalam membentuk dan mencerminkan perasaan masyarakat dari waktu ke waktu.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita VAOK.

Share This Article