>

Pro Kontra Tahlilan di Rumah Jokowi: Guntur Romli Kritik Politisasi, Warga Membela

2 Min Read


Fajar.co.id — Video acara tahlilan di depan rumah Presiden Jokowi (presiden nomor 7 Indonesia) banyak dilihat di media sosial dan jadi perdebatan. Ada yang bilang acara itu seperti memanfaatkan tradisi agama untuk politik, tapi ada juga yang melihatnya sebagai doa biasa dan bagian dari kebudayaan kita.

Politisi Mohamad Guntur Romli dari Partai PDI Perjuangan mengatakan, tahlilan itu tradisi penting yang seharusnya tidak dicampur dengan urusan politik.

“Tahlilan itu kumpulan doa, mengingat Allah, membaca tasbih, dan tahlil. Tujuannya supaya kita dekat dengan Allah. Kalau dipakai untuk politik atau memuja seseorang, itu merusak makna spiritualnya,” kata Guntur.

Dia menambahkan, tradisi tahlilan ini sudah lama menjadi bagian penting dari Islam di Indonesia dan dilakukan untuk beribadah, bukan untuk memobilisasi orang untuk politik.

Warga: Berdoa Itu Hak dan Tradisi

Sebaliknya, banyak warga yang ikut acara itu membantah tuduhan memanfaatkan politik. Mereka bilang acara itu adalah doa bersama yang dilakukan dengan sukarela.

“Saya datang untuk mendoakan dan menjalin silaturahmi. Tidak ada ajakan untuk mendukung siapa pun atau urusan politik,” kata salah satu peserta yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurutnya, tahlilan itu tradisi sosial-agamaan yang biasa dilakukan di mana saja, termasuk di rumah tokoh masyarakat. “Selama isinya doa dan tidak ada ajakan politik, menurut saya tidak masalah,” tambahnya.

Konteks dan Pendapat Orang Banyak Penting

Orang banyak menilai perdebatan ini muncul karena tempat acara dan orang yang terlibat. Rumah seorang tokoh besar seperti Jokowi dianggap punya arti penting, jadi setiap kegiatan di sana mudah dianggap sebagai pesan politik.


Share This Article