Fajar.co.id – Keributan saat diskusi politik di TV, di acara “Rakyat Bersuara” iNews, lagi-lagi bikin banyak orang bertanya tentang siapa yang bertanggung jawab dalam diskusi terbuka.
Seorang ahli, Dede Budhyarto bilang, kritik nggak cuma buat yang ikut bicara, kayak Permadi Arya atau Abu Janda. Tapi juga buat TV dan pembawa acara yang mengatur jalannya diskusi.
TV Dianggap Berperan Penting dalam Keributan
Dede menjelaskan, keputusan TV untuk terus mengundang orang yang suka bicara dengan cara yang memprovokasi jadi alasan utama keributan itu terjadi.
“Kalau ada yang terus diundang karena gaya bicaranya bikin emosi, pasti ada alasannya,” katanya saat diwawancarai di Jakarta.
Menurutnya, TV tahu kalau debat panas bisa membangkitkan emosi dan bikin diskusi jadi tegang. Ini malah bikin banyak orang tertarik nonton.
Ini Masalah Lama di Acara Politik Indonesia
Dede menambahkan, diskusi politik yang jadi ajang saling marah bukan hal baru di Indonesia. Dia kasih contoh debat sengit antara Razman Arif Nasution dan Ahmad Khozinudin di acara yang sama. Diskusi jadi konflik karena banyak kalimat kasar.
“Akibatnya, diskusi yang seharusnya buat bertukar pikiran malah jadi ajang berkelahi,” jelasnya.
Pembawa Acara Jadi Kunci Diskusi yang Baik
Dede juga menekankan pentingnya peran pembawa acara dalam menjaga kualitas diskusi. Mereka nggak cuma mengatur waktu bicara, tapi juga harus memastikan diskusi tetap fokus pada masalah yang dibicarakan.
