VAOK.NET, JAKARTA — Seorang anak SD di Sorong dikabarkan tidak boleh sekolah. Kabarnya, ini terjadi karena ayahnya bertanya tentang pembangunan gereja di sekolah tersebut.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah anak itu tidak boleh sekolah hanya karena ayahnya memberikan kritik?
Kakek korban, Lex Wu, merasa sangat kecewa dengan masalah yang melibatkan orang dewasa dan anak-anak.
“Sayang sekali ya. Anak-anak seusia Karin malah jadi korban masalah orang dewasa. Itu tidak baik,” kata Lex Wu melalui YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, sekolah itu adalah sekolah Kristen yang seharusnya mengajarkan kasih sayang.
Kisah Kejadian
Lex Wi menjelaskan bahwa awalnya ada yang meminta izin untuk bekerja di Jakarta. Permintaan izin itu dilakukan pada 13 Mei, yaitu hari libur.
Karin, yang berusia 9 tahun, dan adiknya, Kennet (7 tahun), ikut ke Jakarta selama tiga hari.
Pada 15 Mei, orang tuanya mendapat pekerjaan di Bogor dan berencana pulang. Namun, pada 16 Mei, Kennet sakit.
Kennet kemudian dibawa pulang ke Surabaya karena tidak ada keluarga di Jakarta.
“Sejak saat itu, kami menghubungi sekolah untuk memberitahu Kennet sakit. Pada 20 Mei, Karin juga sakit,” ujarnya.
Karin mengalami masalah pernapasan. Lalu, pada 26 Mei, ibunya mulai sakit bahkan harus dirawat di ICU. Bahkan, lanjut Lex, pada 30 Mei, mereka menerima ancaman di WhatsApp.
“Di WhatsApp, kami diancam agar tidak lagi pergi ke gereja. Kami tidak boleh beribadah, pokoknya tidak boleh datang,” jelasnya.
